Kebijakan Pengelolaan Perianan Tangkap yang Berkelanjutan



Tiga komponen kunci dalam sistem perikanan berkelanjutan, yaitu 1) sistem alam (natural system) yang mencakup ikan, ekosistem, dan lingkungan biofisik, 2) sistem manusia (human system) yang mencakup nelayan, pengolah, pengguna, komunitas perikanan, lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya, dan 3) sistem pengelolaan  perikanan  (fisheries  management  system)  yang  mencakup perencanaan dan kebijakan perikanan, manajemen perikanan, pembangunan perikanan, dan penelitian perikanan. Sistem perikanan adalah sistem yang kompleks,  dan  memiliki  sejumlah  unsur  yang  terkait  satu  sama  lain  secara dinamik   maupun   statis.   Dalam   prakteknya,   keragaman   sistem   perikanan bersumber dari beberapa hal, yaitu 1) banyaknya tujuan dan seringkali menimbulkan  konflik  antar  tujuan,  2)  banyaknya  spesies  dan  interaksi  antar spesies dalam konteks level tropik, 3) banyaknya kelompok nelayan beserta interaksinya dengan sektor rumah tangga dan komunitas, 4) banyaknya jenis alat tangkap dan interaksi antar mereka, 5) struktur sosial dan pengaruhnya terhadap perikanan, 6) dinamika informasi perikanan dan diseminasi, 7) dinamika interaksi antar sumber daya ikan, dan 8) ketidakpastian dalam masing-masing komponen sistem perikanan (Charles 2001).
Menurut Bailey (1998), kebanyakan penangkapan ikan di daerah pantai Asia Tenggara sedang mendekati atau telah melampaui ambang penangkapan  yang menjadi syarat bagi pemanfaatan maksimum, karena peningkatan luar biasa dalam usaha penangkapan ikan selama dua dasawarsa terakhir. Jumlah nelayan kecil yang  terus  meningkat  dan  digunakannya  alat  penangkapan  ikan  yang  sangat efektif, seperti pukat harimau, telah menciptakan suatu ancaman yang serius terhadap  sumber daya  ikan  yang rentan. Ada  pengakuan  yang semakin  besar perlunya menetapkan rencana-rencana pengelolaan yang efektif atas penangkapan ikan di daerah pantai guna menjamin terpeliharanya hasil-hasil yang tinggi untuk jangka panjang.
Sumber daya ikan perlu dikelola secara baik untuk menjamin kelestariannya, karena sumber daya ikan memiliki kelimpahan yang terbatas, sesuai daya dukung habitatnya. Sumber daya ikan dikenal sebagai sumber daya milik bersama yang rentan over fishing (Monintja dan Yusfiandayani, 2001). Boer dan Azis (1995) menyebutkan bahwa salah satu tugas pengelola sumber daya ikan adalah menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan yang akan didistribusikan menjadi porsi nasional.
Perikanan tangkap dilaut merupakan penghasilan utama komoditas ikan tangkapan, dimana sekitar 84,7% ikan tangkapan diperoleh dari jenis usaha perikanan tangkap sebagai negara bahari. Indonesia dapat mengandalkan sumber pangan hewani dari komoditas ikan hasil tangkapan. Potensi lestari (MSY) sumberdaya perikanan tangkap Indonesia sebesar 6,4 juta ton pertahun. Sedangkan potensi yang dapat dimanfaatkan (allowable catch) sebesar 80% dari MSY yaitu 5,12 juta ton per tahun (KKP, 2011).
            Optimalisasi produksi perikanan tangkap terus dilakukan oleh pemerintah. Berbagai program dianggap dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi terus digulirkan, seperti peningkatan kapasitas penangkapan, moderenisasi armada dan alat tangkap, pembangunan pelabuhan perikanan sampai program yang sifatnya terpadu seperti program revitalisasi perikanan yang dicanangkan sejak tahun 2005 (DKP, 2005).
Perkembangan upaya penangkapan baik dalam jumlah, ukuran maupun teknologi penangkapannnya telah meningkatkan jumlah ikan yang didaratkan tetapi diikuti oleh  runtuhnya  stok  kelompok  jenis  ikan pelagis  kecil.  Fenomena  ini  diikuti  oleh perilaku pembiaran yang semakin kerap didengar  terhadap  rendahnya  tanggung jawab pelaporan hasil tangkapan, pengabaian saran dan pemikiran saintifik serta  menyalahkan ancaman  lingkungan sebagai faktor utama yang mengakibatkan runtuhnya perikanan  yang  melanda kawasan sub tropis. Pemanfaatan di daerah penangkapan dekat pantai juga mengalami perubahan tiga dimensi yaitu mengarah pada perairan yang lebih dalam, jenis ikan yang baru serta meningkatnya pemasaran jenis ikan dan invertebrata lain yang sebelumnya ditolak dan umumnya jenis pada tingkatan rantai makanan yang lebih rendah (Pauly, 2009).

Adanya program-program tersebut disatu sisi memberikan hasil positif yaitu meningkatnya produksi perikanan tangkap. Akan tetapi, di lain pihak menimbulkan dampak negatif, yaitu terjadinya eksploitasi sumberdaya perikanan tangkap yang tidak terkendali. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan tingkat eksploitasi sumberdaya perikanan. Tingkat eksploitasi di sebagian wilayah, seperti Selat Malaka, dan Laut Jawa sangat tinggi dan telah melampaui tingkat produksinya secara lestari.  Hal ini tentunya akan mengancam keberlanjutan produksi perikanan tangkap di wilayah-wilayah seperti itu. Terjadinya eksploitasi tersebut disebabkan karena orientasi pokok program-program pada sub sector perikanan tangkap adalah peningakatan produksi semata, sehingga kurang memperhatikan aspek pengelolaan lingkungan, daya dukung dan pengawasan




Sumber:
Bailey C. 1998. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Penyunting: D. C. Korten dan Syahrir. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Boer M, dan KA Azis. 1995. Prinsip-Prinsip Dasar Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Melalui Pendekatan Bio-Ekonomi. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Charles AT. 2001. Sustainable Fishery System. Blackwell Science Ltd. Oxford.
Direktorat  Jenderal Perikanan  Budidaya. 2010. Pedoman  Perencanaan  Pengembangan Kawasan Perikanan Budidaya (Minapolitan). Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Fatchiya, Anna. 2010. Tingkat Kapasitas Pembudidaya Ikan dalam Mengelola Usaha Akuakultur secara Berkelanjutan. Jurnal Penyuluhan Vol. 6 No.1
Monintja DR. dan R. Yusfiandayani. 2001. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dalam Bidang Perikanan Tangkap. Prosiding Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Pauly,  D.  2009.  Beyond  duplicity  and ignorance  in  global  fisheries.  Scienta Marina 73 (2). June 2009. p.215-224.
Purnomo, B.H. 2012. Peranan Perikanan Tangkap Berkelanjutan Untuk Menunjang Ketahanan Pangan di Indonesia. Universitas Jember
Sulaiman, 2010. Tantangan Pengelolaan Perikanan Indonesia. Kanun No. 52 Edisi Desember. Hal 516-542
Tajerin, Manadiyanto, dan Sastrawidjaja. 2010. Dinamika Keterkaitan Sektor Kelautan dan Perikanan dalam Perekonomian Indonesia, 1995-2005: Pendekatan Rasmussens Dual Criterion. Jurnal Kebijakan dan Riset Sosek Kelautan dan Perikanan. 5 (1): 97 – 112.
 


Komentar